1 & 8 are my favourite number !

Kalau saya ditanya tentang angka favourite, saya akan menjawab, 1 dan 8. Saya mempunyai alasan mengapa saya sangat menyukai kedua angka ini. Bagi saya, angka-angka ini mempunyai filosofi tersendiri. 

Mulai dari angka 1 (satu). Alasan mengapa saya menyukai angka ini, simple aja, 1  merupakan awal, melambangkan sesuatu yang pertama, melambangkan sesuatu yang unggul. Sebisa mungkin saya ingin menjadi yang terbaik, saya ingin menjadi yang pertama, saya ingin menjadi yang nomor satu di antara yang lain. Mungkin dalam perealisasiannya, sulit bagi saya untuk menjadi yang pertama di antara yang lain, baik dalam pendidikan, maupun dalam bidang lain. Tapi saya selalu berusaha menjadi yang terbaik, dan nomor satu. Saya pun merupakan anak pertama dari dua bersaudara, jadi bisa dikatakan bahwa angka satu juga melambangkan diri saya, hehe.

Selanjutnya angka 8 (delapan). Filosofi di balik angka delapan menurut saya adalah melambangkan kehidupan. Garis berputar yang tidak terputus dari atas ke bawah, dan kemudian kembali ke atas, menggambarkan kehidupan kita yang tak hanya akan berada di atas, namun ada kalanya kita berada di bawah. Bisa pula dikaitkan dengan rezeki, menurut saya angka delapan bisa melambangkan suatu harapan akan suatu rezeki atau anugerah Tuhan yang tidak akan pernah terputus dalm kehidupan saya pribadi.
Hmm, bila kedua angka ini digabungkan menjadi 18, ini melambangkan angka kelahiran saya..

Harapan 2? It’s not bad, yeayy..

Sebelumnya saya pernah nge-posting blog Karya Tulis? Hmm yang isinya tentang komitmen saya untuk mengikuti acara lomba karya tulis yang diadakan di kampus. Awalnya ketika menulis itu, saya memang sangat bersemangat, semangat banget malah hihi.. itu karena pada saat itu saya memang lagi semangat-semangatnya nulis, nulis apapun deh. Saya nggak ngebayangin gimana konsekuensi yang akan saya hadapi ketika nulis karya ilmiah itu nantinya. Ternyata menulis karya tulis ilmiah itu tak semudah saya menulis cerita pendek, puisi, dan hal-hal yang seperti biasanya saya tuangkan dalam blog ini. Lebih rumit dari itu. Dan ketika deadline-nya udah hampir habis, saya mulai kelimpungan. Niatnya sih ikutan lomba itu sendiri, tapi karena saya sadar diri, sadar akan keterbatasan kemampuan saya (halah), saya pun ngajakin tiga orang sahabat saya. Karena alasan tertentu, akhirnya hingga deadline pengumpulan naskah karya tulis, nama yang terdaftar dalam tim kami hanya 3 orang (saya, memes, dan yanti).
Hampir menyerah! itulah yang saya rasakan tiga hari sebelum tanggal 5 (deadline pengumpulan naskah). Gimana nggak? Dalam waktu tiga hari kita harus merampungkan naskah yang masih mentah (alias belum diolah), dan juga belum punya judul yang cocok. Yang bener aja? Sebenernya sih waktu yang diberikan untuk memasukkan judul dan pembuatan naskah itu cukup panjang, dimulai dari 5 Januari – 5 Maret 2011, tapi berhubung saat itu adalah masa-masa menjelang final, dan masih disibukkan dengan banyak tugas kampus, akhirnya saya dan teman-teman timku yang juga sahabat-sahabatku, hanya punya waktu seminggu untuk membuat naskah itu. Parahnya lagi, di waktu yang sangat sedikit, yang hanya seminggu, ketidakkonsistenan kita masih lebih mendominasi. Sering menunda-nunda, mungkin itulah sifat buruk kami. Saya hampir nyerah, tapi memes selalu ngasih semangat, dan bilang, “kita pasti bisa!”. Walhasil, akhirnya kita bisa menyelesaikan naskah karya tulis itu. sehari sebelum deadline, kita udah masukin naskahnya (akhirnyaa).
Tanggal 9 Maret tiba. Awalnya kita mengira pengumuman nominasi dilakukan tanggal 10 maret (agenda yang tertulis seperti itu), tapi ternyata tidak. Tanggal 9, setelah acara maulid selesai, saat itu juga nominasinya dibacakan. Dari 15 KTI yang masuk ke panitia, hanya 6 KTI yang terpilih sebagai nominasi. Kita sempat pesimis, tapi ternyata KTI kami masuk sebagai salah satu nominasi. “Thanks God”, itu yang terucap dalam hatiku saat nominasi dibacakan, dan KTI kami masuk. Ternyata usaha kami hujan-hujanan saat nge-print, mondar-mandir di kampus di saat teman-teman yang lain masih menikmati penambahan libur mereka, itu semua nggak sia-sia.
Dua hari setelah pengumuman, tiba saatnya presentasi KTI. Kami semua nervous. Gimana nggak? 3 juri yang menilai adalah juri-juri yang menurut kami handal. Salah seorang juri merupakan dosen kami, dan dua orang lagi dari rumah sakit dan juga dinkes. Untungnya salah satu juri dari luar itu nggak hadir, haha. Presentasi pun selesai. Saatnya menggu pengumuman di esok hari.
Keesokan harinya, tepatnya Sabtu, 12 Maret 2011, dirangkaikan dengan acara Seminar Sehari Aspek Kesehatan Makanan Tradisional, pengumuman pun dibacakan di akhir acara. Kita bertiga nggak berharap banyak, juara satu jauh dari pikiran kami. Bukan karena kami pesimis, tapi karena kami sadar diri, hehe. Masuk nominasi pun kami sudah sangat bangga. Bayangin aja, dari 15 KTI yang terdaftar, kami bisa menjadi salah satu dari 6 nominasi. Itu merupakan suatu kebanggan tersendiri bagi kami. Dan ternyata, ketika juri membacakan pengumumannya, eng ing eeng... “Harapan dua, diraih oleh KTI dengan judul Pemahaman dan Persepsi Masyarakat tentang Pengaruh Penambahan Umami pada Coto Makassar terhadap Kesehatan, oleh Nurkhaidah Amalia, dkk”.. Oh God, thanks a lot, usaha kami tak sia-sia.. :)

up