Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Happy Graduation

Daaaannn, inilah yang ditunggu-tunggu, WISUDAAAA :) Setelah ujian tutup bulan Agustus, dan harus menunggu dua bulan untuk wisuda, akhirnya saya wisuda juga. 23 Oktober 2012, salah satu hari bersejarah di hidup saya. Saya bisa meraih gelar Ahli Madya Gizi dan menjadi salah satu mahasiswa berprestasi di Poltekkes. Ada kebanggan tersendiri ketika saya duduk di barisan paling depan bersama mahasiswa-mahasiswa berprestasi dari jurusan lain. Ada kejadian yang bisa dibilang memalukan pas hari wisuda itu. You know what? Saya terlambat! Ternyata kebiasaan terlambat saya ga hanya pas kuliah, bahkan di hari sepenting acara wisuda ini pun saya terlambat! Err. Dan yang lebih memalukan lagi, alasan keterlambatan saya itu karena nyalon hahaha emang dasar cewek, rempong! :p

Wisudawan-wisudawati di suruh dateng jam setengah 9 pagi untuk gladi, dan acara wisuda di mulai jam 9. Padahal sih niatnya, jam 7 saya udah berangkat ke rektorat, tapi berhubung salon tempat saya make up itu rame dengan wisudawan lainnya, yah gitu deh, telat! Padahal saya udah dateng ke salon jam setengah 4 subuh, tapi tetep aja ga keburu, gimana nggak, yang make up itu 20 orang lebih. Alhasil, saya baru berangkat sekitar jam setengah 9 dari daya. Kita lewat tol buat ngehindarin macet, tapi kejebak macet juga di tidung uuhh. Saya sampe ketika acara udah di mulai. Awalnya saya ga boleh masuk karena lagi acara adat-adatan gitu (gue juga ga ngerti namanya apa). Dan setelah itu, saya baru dibolehin masuk. Parahnya, saya yang udah telat dateng, malah dengan pedenya lewat di tengah-tengah. Semua mata tertuju ke saya. Ohmegaaaaatttt malunyaaa.. Saya juga ga kepikiran lewat pinggir (emang dasar Pika haha). Marsuki, anak Keperawatan dari Pare-pare yang duduk di samping kiri saya sampe ketawa ga nyangka kalo alasan saya telat itu karena nyalon haha.

Inilah salah satu moment yang membuat saya merinding, bangga, terharu, yakni ketika mahasiswa terbaik dipanggil satu per satu ke depan untuk menerima ijazah dan buku alumni, serta dipindahin pita toganya dari kiri ke kanan. Ketika nama saya disebutkan, mahasiswa terbaik dari jurusan Gizi, Priskila Iriana Kamasi, lahir di Jayapura, anak dari bapak Deky Naudy Kamasi dan ibu Riani Simamora, dengan IPK 3,91.. Rasanya itu luar biasa bangganya. Saat itu saya berharap papa dan mama bisa melihat ketika saya dipanggil ke depan dan nama mereka disebutkan. Tapi karena saya datang terlambat, akhirnya orangtua saya ga masuk dan ga dapet tempat di atas. Kata mama, mereka hanya melihat saya dari luar. Ada kekecewaan dan juga kesedihan sebenernya. Saya pengen mereka melihat anaknya secara langsung :( Tapi mama bilang kalo mereka mendengar ketika nama saya disebutkan dan mereka pun melihat saya walau hanya dari luar. Dan mama bilang kalo mereka bangga dengan saya. :) Semoga ini bukanlah kesempatan terakhir saya untuk membuat mereka bangga :')

3 tahun menuntut ilmu di Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Makassar bukanlah hal mudah. Banyak suka dukanya. Mulai dari seneng, sedih, berantem sama temen, pusing bahkan pernah saya sampe nangis karena tugas yang bejibun, gila-gilaan dan cekakak-cekikikan sama temen-temen yang bisa dibilang gokil, curhat-curhatan sampe nangis-nangisan bareng sahabat karena putus cinta, kekecewaan, banyak hal yang saya lewati bersama NU3C 09. Dan kini, tiba saatnya di penghujung kebersamaan dengan mereka. Sedihnya luar biasa :( Di setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Yep, itu pasti. Sesungguhnya ini bukanlah akhir melainkan awal dari perjuangan kita yang sesungguhnya. Sukses buat kita semua. Keep contact, guys. 

and, Happy Graduation, NU3C 09 :D

Demisioner...

28 Januari 2012.. Tepat di tanggal itu, kami Pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Makassar Periode 2011-2012 resmi menjadi DEMISIONER haha.. Leganya banget-banget pas selesai melakukan Laporan Pertanggung Jawaban di Mubes ke-X kemaren. 

Oh my Gooodddd, serangan pertanyaan-pertanyaannya itu loh yang bikin Gak gak gak kuaaattt (ala tante-tante personilnya 7 icon). Awalnya sih, semua masih terasa mudah, semua pertanyaan bisa dijawab dengan lancar. Tapi pas menjelang akhir laporan, tepatnya di laporan bendahara umum, nah itu dia yang lumayan menguras otak, halah. Sigit dan Deddy, dua orang inilah yang ngotot ingin meminta laporan keuangan dari kegiatan Pengenalan Program Studi (PPS) a.k.a ospek. Yep, kegiatan ini memang kegiatan yang paling banyak menyumbangkan keuntungan yang besar untuk kas himpunan. Saya yang pada saat PPS menjadi sekretaris di kegiatan PPS, belum membuat LPJ kegiatan sampai kepengurusan berakhir. Bukan dengan alasan, saya tidak membuat LPJ dikarenakan laporan catatan keuangan bendahara sudah berada di tangan ketua panitia, dan entah dimana kececernya. Kita sempat kelabakan karena dua orang yang tadi saya sebutkan itu ngotot minta LPJ PPS ditunjukin. Berhubung anak himpunan 'cerdas' (narsis dikit boleh dong ya), akhirnya semua bisa teratasi dengan akal cerdik kami hihi :p

Over all, mubes ke-X kemarin merupakan suatu moment yang bisa dikatakan mengharukan bagi saya. Selesai LPJ, kita semua merasa amat sangat lega, bahkan ada acara nangis-nagisannya juga karena terharu, kepengurusan sudah berakhir. Suatu tanggung jawab yang sangat besar yang kami pegang saat mengemban amanah Mubes ke-IX tanggal 2 April 2011 kemarin. Kami melangkah bersama dengan satu tujuan, membawa himpunan menjadi lebih baik dan lebih maju, dan kini kepengurusan kami telah berakhir. Kami akui bahwa mungkin tidak banyak perubahan dalam himpunan selama masa kepengurusan kami, namun inilah kami, kami yang penuh kekurangan, kami yang selalu berusaha memajukan himpunan dalam keterbatasan kami, inilah yang bisa kami berikan bagi himpunan.

Jabatan sebagai Sekretaris Umum bukanlah suatu jabatan yang kecil bagi saya, jabatan itu adalah jabatan yang cukup membuat saya terbebani ketika saya ditunjuk sebagai Sekretaris Umum. Menurut saya, jabatan itu sangat besar amanahnya. Namun dengan bantuan semuanya, saya bisa mengemban tugas sebagai Sekretaris Umum dengan baik, walaupun masih banyak kekurangan. 



Terlalu banyak kenangan bersama anak Himpunan. Susah, senang, sedih, bahkan sampai perselisihan pun pernah kami alami. Himpunan memang penuh warna, banyak cerita, menyisakan banyak kenangan yang pastinya akan selalu saya bawa, selalu saya ingat, kapanpun, dimanapun :)


Pelantikan Pengurus HMJ-Gz Periode 2011-2012

Pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Makassar Periode 2011-2012

Pengurus Inti

Pengenalan Program Studi (PPS), 18-19 Agustus 2011

Bina Akrab @ Malino, 1 Oktober 2011

Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK), 18-20 November 2011

Mubes ke-X ini mungkin bisa dikatakan mubes terlama untuk jurusan Gizi. Bayangin aja, mubes selesai jam 2 pagi, padahal tahun-tahun sebelumnya paling lama mubes selesai pukul 11 malam. Mubes yang sungguh melelahkan memang, tapi sangat seru, haha. Serunya dimana? Yak, menurut saya perdebatan mempertahankan bakal calon itulah yang sangat mengasyikan. 

Oya, ada 3 bakal calon ketua di mubes kemaren, Sigit-Kiki, Iphe-Reni, dan Ahmad-Adhim. Untuk bakal calon 01 Sigit-Kiki, mungkin inilah yang menimbulkan kontroversi, ceileh bahasanya :p Yep, bukan karena Kiki-nya, tapi karena Sigit lebih tepatnya. Jujur, saya termasuk salah seorang yang awalnya tidak mendukung pasangan ini, bahkan saya pun ikut serta untuk menolak pasangan ini, walaupun Sigit itu sebenarnya merupakan teman saya sewaktu SD dulu, tapi untuk masalah ini, saya berusaha profesional dan tidak subjektif. Di setiap pemilihan sudah pasti ada pro-kontra terhadap calon, dan saya serta sebagian besar teman-teman himpunan terutama angkatan 09 termasuk kontra dengan pasangan Sigit-Kiki. Untuk saya pribadi, di satu sisi saya tidak mendukung pasangan itu karena saya tidak ingi terjadi pelanggaran AD-ART, tapi di sisi lain, saya mempertimbangkan kemampuan yang dimiliki oleh seorang Sigit Darmawansyah. Bahkan kanda Irna sempat bilang ke saya, "Kalau dia mampu membawa himpunan menjadi lebih baik dan memajukan himpunan, kenapa tidak?"

Yak, dan pada akhirnya pasangan sigit-kiki lah yang menang dalam pemilihan. Seberapa keraspun saya, asman, lia, yanti, dan teman-teman lainnya berusaha agar tidak meloloskan pasangan ini menjadi calon, kami pun harus menerima bahwa semua keputusan ada pada peserta sidang. Kami pun harus menerima dengan besar hati dan profesional akan keputusan mubes itu. Siapapun yang memimpin himpunan, saya hanya berharap himpunan akan jauh lebih baik di bawah pimpinannya. Semoga. Selamat kepada Sigit Darmawansyah selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Makassar Periode 2012-2013, dan adinda Reski Amalia Umar selaku wakilnya. Kami, Demisioner, mempercayakan himpunan pada kalian.

HIDUP MAHASISWA!

Trip to My Beloved Village (RIP My Beloved Grandpa)

Ini cerita tentang opung dan perjalanan keluargaku ke kampung halaman kami tercinta..
*****
Opung (sebutan untuk opa dalam bahasa batak) setahun yang lalu (2010, red) telah tinggal bersamaku di Makassar. Beliau datang dari Tangerang bareng papa yang saat itu sedang menempuh pendidikan di Curug, Tangerang. Sekitar 3 bulanan sudah opung berangkat meninggalkan Pematang Bandar dan tinggal di rumah tulang (paman, red) yang di Tangerang. Opung telah sebelas tahunan di Pematang Bandar. Mungkin karena beliau ingin mencari suasana baru, beliau pun berangkat ke Tangerang. 3 bulan sudah opung tinggal bersama anak ke 5-nya, hingga pada akhirnya papa mengajak opung untuk jalan-jalan ke Makassar. Ya, hanya jalan-jalan. Awalnya tulang mengizinkan opung ikut papa dengan alasan hanya untuk jalan-jalan saja. Nggak disangka, opung betah di Makassar, dan enggan untuk pulang lagi ke Tangerang bahkan ke Pematang Bandar. Inilah yang sebenarnya ditakutkan oleh semua kakak-kakak mama saya. Mereka mengatakan bahwa opung sudah sangat tua, yang mereka khawatirkan adalah apabila terjadi apa-apa pada opung, dan opung jauh dari mereka. Adat di sana, ketika terjadi hal buruk pada orangtua (meninggal, red), alangkah baiknya bila berada di tempat anak laki-laki, dalam hal ini entah di Pematang Bandar ataukah di anak laki-lakinya yang ada di Tangerang. Dua bulan terakhir sebelum kepergian opung, beliau sakit-sakitan, bahkan dua kali masuk rumah sakit. Ketika masuk rumah sakit yang pertama kalinya, tulang-tulangku yang di Medan dan Tangerang sudah menelepon mama terus-menerus untuk menyuruh opung pulang. Tapi opung bersikeras nggak akan balik ke Tangerang atau bahkan Pematang Bandar. Begini katanya, “Di manapun Tuhan memanggil saya, sama saja. Entah di anak laki-laki, ataupun di tempat anak perempuan, semuanya sama saja. Dimanapun saya dikuburkan, disamping kuburan opung boru(alm. Istrinya) atau tidak, sama saja. Toh nantinya ketika di alam baru sana pun kita tidak akan saling mengenal satu dengan yang lainnya. Jadi saya ingin meninggal di sini dan di makamkan di sini.” Mama pun nggak ingin menyuruh opung pulang, karena itu akan menimbulkan kesan bahwa mama mengusirnya dan nggak ingin mengurusnya, padahal mama ingin mengurus opung semampunya. 
 
Ketika masuk rumah sakit pertama kali, opung didiagnosa menderita sakit anemia berat. Setelah mendapatkan perawatan, akhirnya kondisi kesehatan opung pun mulai membaik. Opung pun diizinkan pulang. Beberapa hari kemudian, ngga disangka, opung tiba-tiba nyuruh mama untuk menelepon anaknya yang ada di Medan. Beliau ingin dikirimkan jas baru yang mahal. Mama kaget dan nanya ke opung, "Untuk apa jasnya, Pak", dan Opung menjawab, "Untuk saya pake ke gereja kalau hari minggu." Mama pun menuruti keinginan opung, dan beberapa hari setelah itu, paket kiriman jas-nya pun tiba di rumah. Kami sekeluarga khawatir dan bertanya-tanya, "apakah ini suatu pertanda?" Kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Opung.

Sekitar dua minggu pasca sembuh dari anemia beratnya, opung mulai merasakan pusing-pusing lagi. Nafsu makannya menurun drastis, yang membuat tubuhnya semakin kurus. Karena kondisi kesehatannya yang makin menurun, ditambah sesak yang membuatnya sulit bernafas, akhirnya opung pun dibawa ke rumah sakit. Saya ingat, saat itu hari jumat malam, 15 April 2011, sekitar jam 9 malam, opung sudah merasa sangat sesak, bahkan beliau mengatakan bahwa ia sudah nggak kuat. Kami sekeluarga khawatir. Papa panik mencari taksi, mama panik melihat kondisi opung, saya dan adek pun panik menyiapkan barang dan menunggu taksi datang. Taksi pun datang, dan opung dipapah ke dalam taksi. Mungkin karena terlalu sakit, akhirnya di dalam taksi beliau tidak lagi bisa duduk, hanya berbaring di pangkuan mama. Adek ikut ke rumah sakit bersama taksi itu, dan papa dengan motor. Saya tinggal di rumah. Saya nangis, dan hanya berdoa, berdoa, dan terus berdoa, mendoakan yang terbaik untuk opung. Setelah mendapatkan penanganan yang segera, opung pun tak lagi sesak, dan agak baikan.

Saya ingat sekali bahwa dua hari sebelumnya, mama sempat meminta didoakan ketika ibadah keluarga di rumah tante dewi (dosen saya juga di kampus), agar semoga tidak terjadi apa-apa dengan opung, tidak masuk rumah sakit, dan hari minggu, 17 April 2011, bisa mengadakan acara syukuran karena adek udah di sidi, dan bertepatan dengan perayaan ulang tahunnya. Tapi Tuhan punya rencana lain. Opung masuk rumah sakit. Hari minggu ketika adek di sidi, papa, mama, dan saya menghadiri acara tersebut, namun acara syukuran yang direncanakan sebelumnya ditunda.. Opung dijaga tante Ine di rumah sakit. Seharusnya saya sebagai cucunya yang menjagai beliau, namun di satu sisi saya juga ingin melihat adek saya disidi.

Hari pun berlalu. Ketika hari selasa, dua orang kakaknya mama datang, yakni kakak pertama (perempuan) dan kedua (laki-laki), yang tinggal di Pematang Bandar. Mereka berangkat hari selasa pagi, dari Pematang Bandar menuju Medan. Dan dari Medan mereka transit sebentar di Jakarta. Mereka pun melanjutkan penerbangan ke Makassar dan tiba sekitar pukul 21.30 WITA di Makassar. Selama di perjalanan menuju Makassar, opung selalu nanyain ke mama “sudah sampai di mana mereka? Kenapa lama sekali sampainya?”, dan mama pun selalu menelpon papa menanyakan posisi mereka. Sepertin ya opung memang tidak sabar bertemu kedua anaknya itu. Semenjak diberitahukan bahwa kedua anaknya yang di Pematang Bandar bakal datang ke Makassar menjenguk opung, opung jadi selalu menanyakan mereka ke mama. Bahkan opung pun bertanya, “kenapa hanya dua orang yang datang? Kenapa tidak semua (anak-anaknya) juga ikut datang?”, mama hanya mengatakan bahwa biayanya yang tidak cukup untuk mereka semua datang ke Makassar.

Sesampainya mak tua dan tulang agus di Makassar, papa membawa mereka ke rumah sebentar untuk menaruh barang-barang. Sekitar jam sepuluhan, mereka ke rumah sakit. Setelah menempuh perjalanan sejam dari rumah ke rumah sakit, sekitar pukul sebelas mereka tiba di rumah sakit. Sebenarnya saya juga ingin ikut ke rumah sakit saat itu (entah ini feeling apa bukan), berhubung mereka (papa, mak tua, dan tulang) ke rumah sakit dengan taksi. Tapi saya juga mikir gimana pulangnya nanti, karena rencananya papa nanti pulangnya naik motor bareng adek yang emang udah ada di rumah sakit saat itu. Saya pun memutuskan untuk tinggal di rumah. 

Tulang dan mak tua pun ngobrol-ngobrol dengan opung. Mama juga sempat menelepon kakak-kakaknya yang nggak bisa datang ke Makassar, keluarga-keluarga yang ada di Medan, Tangerang, Bandung, dan yang lainnya. Opung berbicara dengan mereka walau hanya via telepon. Tapi mama bilang, “walau mereka nggak datang, yang penting opung bisa denger suaranya.” Cukup lama mereka ngobrol-ngobrol. 

Oya, beberapa saat sebelumnya Ibu Pendeta dan beberapa warga jemaat gereja di tempat kami juga datang menjenguk. Dan yang bikin saya merinding, mama cerita, katanya pas pendeta nanya ke opung, "Opung mau didoakan apa? Penyerahan atau penyembuhan?", Opung menjawab, "Penyembuhan." Bahkan opung masih hafal dan fasih berdoa 'Doa Bapa Kami', walaupun beliau berdoa sambil duduk tertunduk dan liurnya menetes karena tidak kuat untuk duduk lagi, beliau sangat berusaha. T_T

Hingga akhirnya mama menyuruh opung istirahat karena opung pun sudah terlihat capek. Begitu pula kakak-kakak mama disuruh istirahat karena telah menempuh perjalanan jauh, dan mama yang menjaga opung. Mama sempat ngobrol dengan pasien di sebelah opung. Pasien itu sempat bilang, “bersyukur ibu, bapak masih sempat bertemu dengan anak-anaknya, sempat ngobrol-ngobrol juga.” Setelah selesai ngobrol, mama pun memutuskan untuk istirahat. Sebelum tidur, mama sempat memegang tangan opung, untuk memastikan bahwa opung baik-baik saja. Dan memang opung baik-baik saja, tangannya masih hangat, dan wajahnya pun sepertinya tertidur pulas. Tak lama ketika mama mencoba tertidur, sekitar jam dua, ternyata mak tua bangun dan memegang opung. Dia teriak, mama dan semua kaget. Mak tua teriak sambil bilang, “aaaaaa, bapak sudah tidak ada.” Sambil nangis mak tua teriak. Tangan dan badan opung sudah dingin. Papa yang ketika jam satu itu sudah ada di rumah bersama adek, hanya sekitar sejam di rumah, papa dan adek pun kembali ke rumah sakit ketika mendengar hal itu. sekitar jam 3 subuh, tante ine datang ke rumah. Saya yang tertidur pulas nggak dengar ketika tante ine manggil-manggil dari luar pagar. Bahkan 5 panggilan di handphone saya pun nggak saya rasakan getarannya sama sekali. Nggak berapa lama setlah tante ine manggil-manggil saya, bahkan tante ine juga sempat berpikir untuk manjat pagar namun nggak jadi karena takut disangkain maling sama tetangga, mama dan adekpun datang. Ketika mereka sibuk menyiapkan jas dan barang-barang lain yang mau dibawa ke rumah sakit, akhirnya saya pun terbangun. Awalnya saya heran kenapa semua pada sibuk, bahkan saya bertanya “Kenapa opung dibawa pulang? Opung udah sembuh?” mama menjawab, “Opungmu udah nggak ada. Udah meninggal opungmu.” Saya kaget seketika. Speechless. Dan saya bilang ke mama, “padahal tadi malam saya mau ikut ke rumah sakit, tapi bingung gimana pulangnya nanti.” Mama langsung bilang, “nggak papa kok.” Ketika mama mau balik ke rumah sakit bareng adek, saya sempet pengen ikut ke rumah sakit, tapi papa nggak ngizinin, karena takutnya ada polisi dan adek belum punya sim. Akhirnya saya pun tinggal di rumah sama tante ine. Beberes rumah karena jam 7 pagian nanti jenazah opung mau dibawa ke rumah untuk ibadah singkat, ibadah pelepasan jenazah sebelum dibawa ke Medan. Jenazah opung tiba di rumah sekitar jam 7 pagi, dan ibadah singkat pun dimulai. Sekitar pukul 07.30 WITA, kita sekeluarga ke airport nganter tulang agus yang bakal berangkat ke Medan membawa jenazah. Berhubung karena pendamping di satu paket pengiriman jenazah hanya satu orang, jadinya tulang agus-lah yang berangkat duluan. Tulang agus dan jenazah opung pun tiba di Medan, lalu dibawa ke Pematang Bandar dengan menggunakan ambulance.

Tiket untuk ke Medan di hari rabu masih terlalu mahal. Jadinya papa memutuskan untuk membeli tiket keberangkatan hari jumat yang lebih murah agar bukan hanya mama dan mak tua yang berangkat, namun papa, adek, dan saya pun bisa ikut ke Medan menghadiri pemakaman opung yang rencananya dimakamkan hari sabtu. Jumat, 22 April 2011, kami sekeluarga berangkat ke Medan. Kami berangkat subuh dari rumah, sekitar pukul 05.00 WITA menuju Sultan Hasanuddin International Airport. Setelah check-in, akhirnya sekitar pukul 06.30 WITA, pesawat pun take-off. Sekitar 2 jam penerbangan, kami transit di Soekarno-Hatta International Airport. Sekitar sejam setelah melapor di bagian pelaporan penumpang transit, kami pun melanjutkan perjalanan ke Medan yang ditempuh sekitar 2 jam perjalanan. 

Sesaat sebelum take off Jakarta-Medan


Sekitar pukul 11.00 WIB kami tiba di Polonia International Airport. Kami masih harus menempuh 3 jam perjalanan darat untuk sampai di Pematang Bandar. Sekitar jam setengah empat sore kami tiba di Pematang Bandar. Kami disambut dengan haru. Kakak-kakak mama pada nangis.

Semua keluarga pada ngumpul di rumah tulang Agus, kakak laki-laki mama yang pertama. Sejak kami sampai, acara berasa nggak ada hentinya (halah, ini lebay), mulai dari acara nangis-nangisan semua anak-anaknya opung, dan anggota keluarga lainnya, acara nyanyi puji-pujian, dan sebagainya. Sampai akhirnya saya benar-benar nggak bisa nahan ngantuk dan memutuskan tidur jam sepuluh malam. Keesokan harinya, sabtu, 23 April 2011, pagi-pagi buta semua keluarga udah pada beberes, dandan buat acara pemakaman opung. Saya bukan type cewek yang suka dandan sampe menor, bedak dan lipgloss cukup kok buat saya haha.. 

Acara pun dimulai. Buju buneennggg... ternyata acaranya seharian. Sekitar jam delapan pagi, acara udah dimulai di rumah tulang Agus, acaranya itu sejenis ucapan-ucapan terakhir yang ingin disampaikan ke opung yang bentar lagi akan dimakamin. Mulai dari anak, sampe cucu-cucu ngasih ucapan-ucapan terakhir. Sekitar jam sembilanan, jenazah dibawa ke gereja (tepatnya bangunan samping gereja) untuk diadakan acara selanjutnya. 

 Ketika jenazah Opung dibawa dari rumah menuju Gereja



 Menuju Gereja


Nah di sini ini yang acaranya nguras tenaga banget. Acara adat yang mengharuskan kaki untuk bekerja lebih maksimal (berdiri, red). Cuma berdiri sih emang, tapi berdirinya itu sekitaran TUJUH JAM. Buseeettttt.... Paling duduknya cuma bentaran, eh udah mesti berdiri lagi di samping petinya opung. 

 Semua cucu harus berdiri di samping peti Opung


Tiap ada orang yang dateng ngasih santunan, uang, ulos, beras, dll, musik pun dimainkan dan kita semua mesti manortor. 



Melelahkan memang. Tapi nggak papa deh, demi opung untuk yang terakhir kalinya. Sekitar jam setengah limaan, jenazah pun dibawa ke tempat pemakaman 



 Perjalanan menuju tempat pemakaman


dan dimakamkan (good bye my beloved opung...).

Hari minggu tiba. Kita udah mulai beresin barang-barang, siap-siap mau ninggalin Pematang Bandar di esok hari. Waktu berjalan, dan sampailah di malam hari. Papa, mama, adek, dan aku diadatin gitu. Bukan diadatin sih, entahlah apa namanya. Tiga kakak laki-laki mama ngasih piring besar isinya nasi sama ikan mujair jumbo. Sambil ngasih makanan itu, mereka bicara dalam bahasa batak, mama bilang sih artinya mereka ngucapin terima kasih sama kami karena kami udah ngerawat opung selama opung ada di Makassar, bahkan sampai meninggal di Makassar. Oya, ada juga beras yang ditaruh sedikit-sedikit di kepala kami, yang kata mama, itu artinya kita diberikan berkat Tuhan melalui kakak-kakak mama itu. pokoknya aku speechless deh sama adat istiadat di sana yang masih kental.. :)

Keesokan harinya, kami, keluarga tulang Hendra, dan tulang Jares udah mulai berangkat ke tempat tujuan kami masing-masing. Tulang Hendra dan tulang Jares berangkat ke rumah keluarga mereka yang juga masih di Medan, dan kami pulang ke Makassar. Ya, awalnya papa bilang kalau kami akan pulang ke Makassar hari senin itu, tapi ternyata nggak. Sampai di kota Medan, saya, mama dan adek heran karena papa bukan nyuruh sopir mobilnya ke airport malah ke hotel. Ternyata temen papa udah nge-booking-in kamar di Danau Toba International Hotel



Walhasil, kita nginep satu malam di hotel. Nyampe di hotel, kita istirahat sebentar dan langsung menjelajah Medan nyari makan. Karena kita nggak tau jalanan di Medan, akhirnya nanya ke security hotel tempat makanan yang deket hotel. Kita ngitarin jalanan yang cukup jauh, sampai akhirnya kita nemuin satu mall. Sun Plaza. Abis makan dan belanja di mall, kita pun balik ke hotel. Ternyata eh ternyata, mall sama hotel itu berdekatan, tapi karena kita salah ngambil jalan, kita malah muter, ajee gileee, betis bengkak karena jalan (okeh, ini lebay).

Malamnya, temen papa ngejemput kita di hotel. Kita ngitarin Medan di malam hari. Merdeka Walk adalah tempat kami mneikmati malam, juga santap malamnya. Kalo aku bisa mendeskripsikan, Merdeka Walk itu tempat makan yang ada di pinggir jalan, namun sudah didesain sedemikian rupa, ditata dengan baik sekali menurut saya. Warna-warni lampu menghiasi sepanjang Merdeka Walk. Di sana ada televisi besar yang sengaja ditaruh di bagian atas, disanggah oleh tiang-tiang yang emang didesain untuk itu. makanan-makanan yang ditawarkan juga hi-class. Pokoknya keren dehh.. 

 Merdeka Walk, Medan


Setelah santap malam, kami pun balik ke hotel.

Selasa pun tiba. Di pagi hari, setelah breakfast di Terrace Cafe yang ada di hotel, kami jalan lagi ngelilingin Medan, nyari bika ambon, oleh-oleh khas dari Medan. Cukup jauh, and you know what, kita jalan kaki. Huuuaaahhh capek gilee...  Lagi asik-asiknya jalan, kita ngeliat salah satu gereja di Medan, dan nyempetin foto.. hihi..



 Perjalanan pun dilanjutkan..

Akhirnya kita sampai di suatu gang yang di sepanjang jalan gang itu semuanya pada jual bika ambon. Udah dapet bika ambon, kita jalan lagi. Di jalan balik ke hotel, ada Cambridge Mall. Kita masuk ke sana, dan hanya masuk ngeliat-liat doang, dan keluar haha. selanjutnya kita ke Sun Plaza (lagi), buat ngisi perut. And then, balik ke hotel untuk siap-siap check out.  Istirahat bentar, dan sekitar jam duaan, kita check out dari hotel dan dijemput temen papa untuk dianter ke airport.

Pesawat Sriwijaya Air yang kita tumpangi take off sekitar jam empat-an dan tiba di Soetta Airport sekitar jam 6 lewat. Rencananya sih sampai di Cengkareng, mau ke Tangerang, karena kita baru take off ke Makassar jam 00.30 WIB, daripada nunggu kelamaan di airport, mending ke tempat tulang Jares. Kita mengira, tulang take off dari Medan sore dan bisa sampe di Cengkareng jam 7, ternyata mobil yang tulang tumpangin dari kampung ke kota Medan itu lambat, jadinya sekitar jam tujuh itu, tulang malah belum sampai di airport. Walhasil, sampai di Cengkareng, kita ke rumah temen papa yang kebetulan nggak jauh dari airport Cengkareng. 

Sekitar jam sepuluh malam, kita kembali ke airport. Ternyata suasana di airport di malam hari itu emang sepi beneeerrr... Bayangin aja, pas kita nyampe di gate keberangkatan, orang-orang disitu bisa dihitung jari. Yang ada cuma petugas bandara, penumpang yang ada baru kita aja. Sampai akhirnya penumpang yang lain mulai berdatangan. Malam yang sepi dan amat sangat dingin di bandara. Kami bahkan sempet tidur dikursi-kursi ruang tunggu keberangkatan. Tapi berhubung saya merasa amat sangat kedinginan, saya jadi nggak bisa tidur. Well, daripada benging, mending foto-foto, mengabadikan suasana malam hari di airport, hihi. (karena alasan privacy, saya nggak posting fotonya di sini.. *sok)

Setelah nunggu sekitar dua setengah jam, panggilan masuk pesawat pun terdengar. Kami tiba di Sultan Hasanuddin International Airport sekitar pukul empat dini hari. Setelah nunggu bagasi, sekitar pukul lima-an, kami berangkat menuju our home sweet home. Sampe rumah, kita semua langsung TEPAAAARRRRR....

 Beberapa hari kemudian, papa membongkar koper Opung. Di situ ada sebuah kertas, and you know what? Ternyata Opung nulis semua tanggal, bulan dan tahun mulai dari ketika Opung hijrah dari Pematang Bandar ke Tangerang, tahun beliau kembali ke Pematang Bandar, tanggal meninggalnya opung boru, tanggal ketika beliau kembali lagi ke Tangerang tahun kemarin, tanggal keberangkatan beliau ke Makassar,  tanggal ketika di rumah saya ada kebaktian keluarga, bahkan opung juga nulis tentang kapan beliau memasang gigi palsu, sampai biaya memasang gigi palsu itu, tentang bagaimana beliau menyuruh anaknya yang di Medan untuk mengirimkan uang dari tabungan uang pensiunannya, semua ada di kertas itu. Mama bilang, "Mungkin Opung senang dan udah lama kepengin masang gigi palsu, ya". 


Opuuuunnggg.. I love you.. And I'll be missing you so much.. :*

Merry Christmas..

Nggak kerasa, natal udah tiba. Nggak kerasa pula kita sudah berada di penghujung tahun 2010. Yep, tepatnya lima hari lagi, kita akan memasuki tahun yang baru. Well, saya belum ingin bercerita tentang tahun baru, namun lebih ke natal kali ini.

Sama seperti yang biasa keluarga kami lakukan di tiap tahun ketika malam natal, kami pergi ke gereja. Dalam tata ibadah malam natal semalam, ada beberapa kalimat yang menurut saya dapat menginspirasi banyak orang.

“Malam yang gelap bukanlah hal yang menakutkan. Ia justru memperjelas pentingnya kebutuhan terang bagi kita. Biarlah saat ini menjadi kesempatan untuk bersyukur, atas kehadiran-Nya bagi dunia yang gelap karena dosa.”

Yep, dunia ini sudah tua dan memang sudah terlalu penuh dengan dosa. Dosa yang membuat dunia ini menjadi gelap. Amat gelap. Pernah kebayang nggak gimana rasanya menjadi buta? Nggak usah buta deh, ketika rumah kita kena pemadaman lampu bergilir, gimana rasanya? Gelap! Nggak ada satupun yang dapat kita lihat. Ketika kita menyalakan lilin ataupun sumber cahaya lainnya, barulah kita dapat melihat satu per satu apa yang ada di sekeliling kita. Itulah alasan mengapa kita sangat membutuhkan terang. Dan terang itu adalah DIA. Hanya terang-Nya yang dapat menyirnakan kegelapan dunia yang telah dipenuhi dosa. Yep, hanya DIA.

“Dalam DIA ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”

Bila kita ingin terbebas dari kegelapan dunia ini, dekatkanlah diri kita pada-Nya, Si Pemilik Terang itu. Introspeksi apa yang telah kita lakukan di kehidupan kita sebelumnya. Belajarlah dari kesalahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Salah satu firman-Nya berkata : “Jadilah garam dan terang dunia.”

Yep, saya ingin menjadi terang. Saya ingin seperti lilin, yang walaupun kecil, namun mampu menyinari sekelilingnya. Memberi cahaya dalam sebuah kegelapan. Menyirnakan gelap dan memberi terang.



Selamat hari natal 2010 dan selamat menyongsong tahun baru 2011. Semoga damai natal melimpah atas kita.

Happy Christmas for everyone :D

Untukmu, mama..


Ketika di luar sana, banyak anak yang sibuk mempersiapkan kado spesial untuk ibunya di hari ibu, saya hanya diam di rumah, bersantai, dan menganggap tak ada yang spesial. 
 
Yep, saya bukanlah anak perempuan yang dapat dengan mudahnya menunjukkan rasa sayang kepada orang tua, terutama seorang ibu. Entah mengapa, kata-kata “Mah, selamat hari ibu. Ini kado untuk mama”, seperti yang biasa diucapkan kebanyakan anak ketika hari ibu tiba, sangat sulit untuk terucap olehku. Jangankan kata-kata seperti itu, bahkan ketika banyak anak yang dapat menunjukkan kasih sayang pada ibunya dengan kata-kata “I love you, Mom” pun sangat sulit kuucapkan secara langsung dihadapannya.

Segan? Malu? Mungkin. “I always spare my time with you, Mom, but I’m too shy to say I love you”. Saya tidak terbiasa untuk mengucapkan kata-kata sayang pada orang tua, sekalipun itu pada mama. Bahkan bermanja-manja dipangkuan dan dipelukan mama pun saya jarang melakukannya. Bukan karena mama tidak memanjakan aku, malah mama sering ingin menciumiku, memelukku, memanjakanku dipangkuannya, tapi saya yang menolaknya. “Saya bukan anak kecil lagi”, pikirku. Menurutku, hanya anak kecil yang bermanja-manja dipelukkan ibu. Ya, ini hanya sekedar opiniku semata. 

Seingat saya, setiap moment hari ibu tiba, jangankan menyiapkan kado, bahkan ucapan ‘selamat’ pun tidak saya berikan. Mungkin banyak yang berpikir dan berpendapat bahwa saya bukanlah anak yang baik, tidak berusaha menyenangkan hati seorang ibu. Terserah orang mau berpendapat seperti apa. Itu hak mereka. Dan inilah saya. Mereka tidak tahu saja bagaimana cara saya untuk membuat ibuku bangga memiliki anak seperti saya. 

“Mah, jangan mengharapkan kata-kata yang puitis keluar dari bibirku, karena itu sulit. Mungkin saat ini saya belum bisa membuatmu bangga, tapi saya berjanji, suatu saat nanti saya akan membuatmu bangga memilikiku.”

Saya memang tidak seperti anak-anak lain yang dapat secara langsung mengungkapkan cinta kasihnya pada ibu mereka, tapi yang perlu Mama tahu, in deep of my heart, I wanna say:
“Saya sangat mencintaimu, Mah..”

up