Showing posts with label prosa. Show all posts
Showing posts with label prosa. Show all posts

Hujan

Pernahkah terpikir olehmu berapa jumlah tetesan air hujan? Itulah yang saat ini aku alami.

Pagi ini hujan turun. Hujan yang tak seperti biasanya. Hujan kali ini begitu deras. Awan merasakan kesedihan yang begitu mendalam, memendam begitu lama, tak kuat, dan akhirnya air mata sang awan pun tumpah ruah. Begitu derasnya.

Aku mengintip dari balik jendela kamar mungilku. Melihat kesedihan awan dari tetesan hujan. Aku bisa merasakan itu, karena akupun demikian. Deras hujan seakan mewakiliku. Tak hanya mewakili kesedihanku, tapi juga kecintaanku. “Kau sama denganku”, kataku terhadap awan.


“Awan, hujanmu itu airmataku.”
Kesedihan menghampiriku saat ini. “Sama seperti kamu, awan.” Ternyata aku tidak sendiri, ada awan yang sama denganku. Kami dilanda kesedihan.

Andai saja tetesan hujan dapat dihitung. Tapi siapa yang mau menghitung hujan? Hanya orang bodoh yang melakukan itu.

Kita takkan pernah tahu dengan pasti berapa tetesan hujan yang awan tumpahkan. Namun satu hal yang pasti, ketika kau pergi, kesedihanku sebanyak hujan.

“Dear hujan, kalau kau baik, tolong sampaikan salamku padanya”, bisikku.

Kau bisa lihat betapa sedihnya aku? Begitu berat melepasmu. Lihatlah keluar. Lihatlah derasnya hujan. Begitulah aku mencintaimu.

Bulan dan Bintang

Petang, fase sebelum malam. Fase yang kusukai. Fase yang kusenangi. Fase sebelum aku bertemu malam. Malam yang selalu kutunggu.
Saat dimana bintang dan bulan saling bercumbu, itulah malam. Aku suka melihat keakraban antara bulan dan bintang. Aku iri dengan mereka. Aku iri melihat kedekatan mereka. Aku iri melihat bulan yang selalu bermesraan bersama bintang.

Bintang yang selalu setia menemani bulan, begitupun sebaliknya. Itulah mengapa aku menyukai malam.

Andai aku dan kamu seperti bintang dan bulan. Kau bulan. Aku bintang. Bintang yang setia menemani bulan. Berdua. Bersama. Memberi keindahan di tengah gelapnya malam.

Tapi malam ini berbeda. Hujan yang membedakannya. Hujan yang turun malam ini membuatku tak bisa melihat kemesraan bulan dan bintang. “Di mana bulan? Di mana bintang? Hey hujan, apa kau menyembunyikan mereka?”, tanyaku. Tak kutemukan keriangan bulan dan bintang malam ini, yang ada hanyalah hujan.

Sama seperti aku. Aku yang tak lagi bersama bulan. Aku yang kehilangan bulan. Aku yang tak lagi memiliki bulan. Hujan memisahkan kita. Hujan yang diiringi badai dan ditemani angin kencang. Menciptakan sekat antara aku dan kamu. Antara bintang dan juga bulan.

Ternyata kemesraan bulan dan bintang tak abadi. Bintang terpisah dari bulan. Bulan entah kemana. Bulan pergi, menyisakan keindahan cahayanya di sekitar bintang. Ya, memang tak ada yang abadi. Termasuk kemesraan bulan dan bintang, juga tak abadi. Namun satu hal, kecintaan bintang terhadap bulan, itulah yang abadi. Sama seperti cintaku untukmu, bulanku.

Senja di tepi pantai


Siang begitu cerah. 
Sang matahari begitu bersemangat memancarkan keceriaannya. Terik, amat terik. 
 
“Serasa menjadi sepotong daging barbeque yang dipanggang di atas bara api. Panas gilaaaa”

Waktu pun melangkah meninggalkan siang. Petang tiba. Semangat pancaran sinar sang matahari di siang tadi membuat sang senja hadir dengan amat cantiknya.

“Saya suka senja.”

Sisa-sisa pancaran sinar matahari. Matahari yang memancarkan sinar kecoklatan. Itulah senja. Itu yang saya suka. Terutama senja yang terlihat di tepi pantai. Ada rasa tersendiri yang tercipta dalam diri ini ketika dari tepi pantai saya dapat melihat matahari yang mulai tenggelam, berjalan masuk ke perut bumi, meninggalkan siang dan menjemput sang malam.

Dan kala itu, aku dapat melihat senja bersamamu.

Sembari menunggu sunset, kita berjalan menyusuri pantai. Bergandengan, berjalan dengan penuh cerita dan tawa. Berjalan hingga ke ujung pantai. Tak terasa, matahari yang awalnya masih terlihat sangat ceria, perlahan mulai menenggelamkan dirinya. 
“Saat yang kusuka tiba. SENJA.”

Senja kali ini begitu spesial. Begitu istimewa. Tak hanya karena aku melihatnya dari tepi pantai, tapi juga karena aku bisa menikmati indahnya senja bersamamu. Adakah yang lebih indah dari ini? Hmm...

Dermaga. Dermaga yang tersusun oleh tumpukan batu pantai. Itulah yang menjadi tempat kita menyaksikan keindahan senja. Senja di kala itu terlihat begitu indah, seindah aku memandang dirimu. Bercerita tentangmu, juga tentangku. Aku menatapmu. Kamu menatapku. Saling bertatapan, itulah kita. Tatapan itu menemani kita melihat sang senja yang begitu indah dan amat cantik. Mengiringi kepergian matahari, untuk menyambut sang malam.

up