Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Cinta Yang Salah

Hello bloggeeeer.. Ternyata udah lama banget ga posting di blog, dan sekarang aku kembaliiiiiiii (*abaikan) hihi :) Eniwei, kali ini saya bakal posting lirik lagu dari Arin Wolayan yang judulnya "Cinta Yang Sama". Lagu ini pertama kali saya denger pas nonton sinetron yang lagi booming sekarang ini, "Tiba-Tiba Cinta" di SCTV. Pas adegan galau antara Bintang (Anisa Rahma) - Alex (Rizky Nazar) - Virgie (Dinda Kirana), lagu "Cinta Yang Salah" jadi backsound-nya, dan  langsung ngena banget di hati :p (korban sinetron banget deh ya saya ini pfftt -_-"). Eniwei, balik lagi ke lagunya.. Pas ngedenger lagu ini, saya langsung googling nyari lagu dan liriknya. Akhirnya setelah sekian lama, sekian abad aku mencari (okeh ini lebay!), saya bisa nge-download lagunya. Tapi sayangnya, susah banget ngedapetin liriknya. Jadilah saya inisiatif ngedengerin lagu, trus nyatetin liriknya untuk di-share ke blog ini, kali aja ada para blogger yang juga pecinta sinetron "Tiba-Tiba Cinta", yang pengen dapetin lirik lagu yang oke banget ini :) Well, let's check this lyric, guys :)

Cinta Yang Salah
                           by: Arin Wolayan

Aku telah lama
menjalani cinta yang tak pasti
yang tak pasti
Aku menyadari
pada akhirnya ku kan terluka
ku kan terluka

Aku yang mencintaimu walau ku tahu
Kau tak akan pernah jadi milikku
Aku yang berkorban demi cintaku padamu

Reff:
Kau bukan milikku karena kau miliknya
Ku tahu pasti suatu hari nanti kau akan tinggalkan aku
Karena bagi mereka cinta kita salah
Ku tak bisa memaksamu memilih aku

Tlah ku serahkan cinta dan hidupku
Kepadamu, kepadamu...
Aku menyadari pada akhirnya
Ku kan terluka, ku kan terluka...

Aku yang mencintaimu walau ku tahu
Kau tak akan pernah jadi milikku
Aku yang berkorban demi cintaku padamu

Back to Reff... (2x)

Kau bukan milikku karena kau miliknya
Ku tahu pasti suatu hari nanti kau akan tinggalkan aku
Karena bagi mereka cinta kita salah

Karena kau miliknya
Ku tau pasti suatu hari nanti kau akan tinggalkan aku
Karena bagi mereka cinta kita salah
Cinta kita salah...

Mengais Masa Lalu

"Mengais Masa Lalu"
(sebuah musikalisasi puisi karya Dwitasari)

Kamu selalu mengajariku mengais-ngais masa lalu
Memaksaku untuk kembali menyentuh kenangan
Terdampar dalam bayang-bayang yang kau gurat secara sengaja
Seakan-akan sosokmu nyata
Menjelma menjadi pahlawan kesiangan
Yang merusak kebahagiaan

Dalam kenangan
kau seret aku perlahan
Menuju masa yang harusnya aku lupakan
Hingga aku kelelahan
Hingga aku sadar
bahwa aku sedang dipermainkan

Inikah caramu menyakitiku?
Inikah caramu mencabik-cabik perasaanku?
Apa dengan melihat tangisku
itu berarti bahagia buatmu?
Apa dengan menorehkan luka di hatiku
berarti kemenangan bagimu?

Siapa aku di matamu?
Hingga begitu sulit kau melepaskanku dari jeratanmu

Apakah boneka kecilmu ini dilarang untuk bahagia?
 
Apakah wayang yang sering kau mainkan ini dilarang untuk mencari kebebasan?
Mengapa kau selalu perlakukan aku seperti mainan?
Kapan kau ajari aku kebebasan?

Ajari aku caranya melupakan!
Meniadakan segala kecemasan
Meniadakan segala kenangan

Nyatanya derai air mataku
Hanya disebabkan olehmu

Ajari aku caranya melupakan
Sehingga aku lupa caranya menangis
Sehingga aku lupa caranya meratap
Karena aku selalu kenal air mata

Aku hanya ingin tertawa
Sehingga hati aku
mati rasa akan luka

Cinta Dalam Diam

Masih sama seperti postingan sebelumnya, postingan kali ini tentang video yang saya temukan di Youtube. Di video ini diceritakan tentang seorang anak yg memiliki ayah yang bisa dikatakan memiliki kekurangan (yep, walaupun sebenarnya semua manusia juga pasti memiliki kekurangan). Ayah anak ini berbeda dengan ayah normal lainnya. Ayah anak tersebut adalah seorang tunawicara a.k.a bisu.

Judul dari video (iklan) inilah yang membuat saya tertarik untuk melihatnya. "Cinta Dalam Diam". Yak, ternyata ini benar-benar sebuah cinta dalam diam, karena sang ayah tak mampu berbicara. Anak dari seorang ayah yang penuh cinta dan kasih untuk anaknya ini merasa malu memiliki ayah sepertinya. Teman-teman selalu mengejek kekurangan ayahnya, dan anak itu merasa malu. Sampai akhirnya, anak ini mencoba bunuh diri disaat sang ayah tengah mempersiapkan sebuah kejutan di hari ulang tahunnya.

Langsung saja, tonton video ini...


Bagi saya, adegan yang paling mengharukan adalah ketika dalam video itu ditayangkan adegan ketika sang ayah mencoba memberikan sebuah kejutan kecil untuk sang anak tercinta. Sungguh mengharukan ketika sang ayah mencoba meminta maaf kepada anaknya karena sang ayah 'berbeda' dengan ayah-ayah yang lain.. :'(

Sayangi dan cintailah orang tua kalian, bagaimanapun keadaan mereka :)

Penuh Makna

Beberapa hari (tepatnya beberapa minggu) yang lalu, aku 'berselancar' di Youtube. Tanpa sengaja melihat judul  video "Iklan Yang Paling Sedih Untuk Ditonton (Sentuhan Terakhir)". Dan memang benar, SANGAT MENYENTUH. Let's check it out.


Gimana? Menyentuh, bukan? Bagi saya, ini sebuah iklan yang bukan hanya sekedar iklan. Penuh makna.

Untitled #7

“Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi yang lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan tidak pernah memliki keberanian untuk mengutarakn cintamu kepadanya.” - Unknown

Untitled #1

Immature love says: "I love you because I need you." Mature love says: "I need you because I love you." - Mahatma Gandhi

Titip Rindu

Tak henti bayangmu menari di otakku
Adakah yang lain?
Kurasa tidak


Terbawa ke alam mimpi
Tiada ucap kau menghampiri
Terbuai angan, kalbu tersayat
Hanya namamu yang terhembus


Sadarku tiba
Angin malam menyambutku


Angin, kutitipkan rinduku padamu

Sekedar Fatamorgana (Ilusi)

Sang surya geram
Kemarahannya memuncak
Sinarnya membakar tubuh


Gersang menemaniku
Dahaga mengusikku


Merangkak kususuri lautan pasir
Kutemukan titik kesejukkan di ujung sana
Begitu indah
Begitu damai


Coba tuk kudekati
Sekejap hilang tak berjejak


Ternyata
Indahmu sekedar fatamorgana

Diammu (Matiku)

Bola mataku menggelinding
Kau hanya diam


Jiwaku rapuh bagai kayu lapuk
Dan kau hanya diam


Rajutan hatiku kusut
Lagi-lagi kau hanya diam


Bahkan tubuhku bermandikan darah
Kau pun tetap diam

Cinta, bingung


Tatkala membahagiakan
Cinta itu anugerah
Tatkala menyedihkan










Cinta itu musibah
Tatkala menyakitkan










Cinta itu malapetaka
Dan bagiku








Cinta itu membingungkan

Hujan

Pernahkah terpikir olehmu berapa jumlah tetesan air hujan? Itulah yang saat ini aku alami.

Pagi ini hujan turun. Hujan yang tak seperti biasanya. Hujan kali ini begitu deras. Awan merasakan kesedihan yang begitu mendalam, memendam begitu lama, tak kuat, dan akhirnya air mata sang awan pun tumpah ruah. Begitu derasnya.

Aku mengintip dari balik jendela kamar mungilku. Melihat kesedihan awan dari tetesan hujan. Aku bisa merasakan itu, karena akupun demikian. Deras hujan seakan mewakiliku. Tak hanya mewakili kesedihanku, tapi juga kecintaanku. “Kau sama denganku”, kataku terhadap awan.


“Awan, hujanmu itu airmataku.”
Kesedihan menghampiriku saat ini. “Sama seperti kamu, awan.” Ternyata aku tidak sendiri, ada awan yang sama denganku. Kami dilanda kesedihan.

Andai saja tetesan hujan dapat dihitung. Tapi siapa yang mau menghitung hujan? Hanya orang bodoh yang melakukan itu.

Kita takkan pernah tahu dengan pasti berapa tetesan hujan yang awan tumpahkan. Namun satu hal yang pasti, ketika kau pergi, kesedihanku sebanyak hujan.

“Dear hujan, kalau kau baik, tolong sampaikan salamku padanya”, bisikku.

Kau bisa lihat betapa sedihnya aku? Begitu berat melepasmu. Lihatlah keluar. Lihatlah derasnya hujan. Begitulah aku mencintaimu.

Bulan dan Bintang

Petang, fase sebelum malam. Fase yang kusukai. Fase yang kusenangi. Fase sebelum aku bertemu malam. Malam yang selalu kutunggu.
Saat dimana bintang dan bulan saling bercumbu, itulah malam. Aku suka melihat keakraban antara bulan dan bintang. Aku iri dengan mereka. Aku iri melihat kedekatan mereka. Aku iri melihat bulan yang selalu bermesraan bersama bintang.

Bintang yang selalu setia menemani bulan, begitupun sebaliknya. Itulah mengapa aku menyukai malam.

Andai aku dan kamu seperti bintang dan bulan. Kau bulan. Aku bintang. Bintang yang setia menemani bulan. Berdua. Bersama. Memberi keindahan di tengah gelapnya malam.

Tapi malam ini berbeda. Hujan yang membedakannya. Hujan yang turun malam ini membuatku tak bisa melihat kemesraan bulan dan bintang. “Di mana bulan? Di mana bintang? Hey hujan, apa kau menyembunyikan mereka?”, tanyaku. Tak kutemukan keriangan bulan dan bintang malam ini, yang ada hanyalah hujan.

Sama seperti aku. Aku yang tak lagi bersama bulan. Aku yang kehilangan bulan. Aku yang tak lagi memiliki bulan. Hujan memisahkan kita. Hujan yang diiringi badai dan ditemani angin kencang. Menciptakan sekat antara aku dan kamu. Antara bintang dan juga bulan.

Ternyata kemesraan bulan dan bintang tak abadi. Bintang terpisah dari bulan. Bulan entah kemana. Bulan pergi, menyisakan keindahan cahayanya di sekitar bintang. Ya, memang tak ada yang abadi. Termasuk kemesraan bulan dan bintang, juga tak abadi. Namun satu hal, kecintaan bintang terhadap bulan, itulah yang abadi. Sama seperti cintaku untukmu, bulanku.

Senja di tepi pantai


Siang begitu cerah. 
Sang matahari begitu bersemangat memancarkan keceriaannya. Terik, amat terik. 
 
“Serasa menjadi sepotong daging barbeque yang dipanggang di atas bara api. Panas gilaaaa”

Waktu pun melangkah meninggalkan siang. Petang tiba. Semangat pancaran sinar sang matahari di siang tadi membuat sang senja hadir dengan amat cantiknya.

“Saya suka senja.”

Sisa-sisa pancaran sinar matahari. Matahari yang memancarkan sinar kecoklatan. Itulah senja. Itu yang saya suka. Terutama senja yang terlihat di tepi pantai. Ada rasa tersendiri yang tercipta dalam diri ini ketika dari tepi pantai saya dapat melihat matahari yang mulai tenggelam, berjalan masuk ke perut bumi, meninggalkan siang dan menjemput sang malam.

Dan kala itu, aku dapat melihat senja bersamamu.

Sembari menunggu sunset, kita berjalan menyusuri pantai. Bergandengan, berjalan dengan penuh cerita dan tawa. Berjalan hingga ke ujung pantai. Tak terasa, matahari yang awalnya masih terlihat sangat ceria, perlahan mulai menenggelamkan dirinya. 
“Saat yang kusuka tiba. SENJA.”

Senja kali ini begitu spesial. Begitu istimewa. Tak hanya karena aku melihatnya dari tepi pantai, tapi juga karena aku bisa menikmati indahnya senja bersamamu. Adakah yang lebih indah dari ini? Hmm...

Dermaga. Dermaga yang tersusun oleh tumpukan batu pantai. Itulah yang menjadi tempat kita menyaksikan keindahan senja. Senja di kala itu terlihat begitu indah, seindah aku memandang dirimu. Bercerita tentangmu, juga tentangku. Aku menatapmu. Kamu menatapku. Saling bertatapan, itulah kita. Tatapan itu menemani kita melihat sang senja yang begitu indah dan amat cantik. Mengiringi kepergian matahari, untuk menyambut sang malam.

Tentangmu

Ini kisah tentangmu.

Tentang candamu.
Tentang tawamu.
Tentang riangmu.
Tentang sedihmu.
Tentang galaumu.
Tentang penatmu.

 
Apapun itu, ini tentangmu.

Tentang canda yang kau bagi padaku.
Tentang tawa yang kau hiasi dalam hidupku.
Tentang riang yang kau beri untukku.
Tentang sedih yang kau sembunyikan dariku.
Tentang galau yang kau tutupi dariku.
Tentang penat yang kau tunjukkan padaku.

Ini tentangmu.
Dan lagi-lagi tentangmu.

Sendiri

Bola mata berlarian
Hati tercabik
Tiba-tiba membisu
Darah mengalir ke samudera
Bermuara pada lautan kesedihan
Pun ketika bulan beranjak dari peraduannya
Hanya aku bersama sedih

Sang Rembulan


Bintang bertaburan
Menari riang
Mengiringi datangnya sang rembulan

Rembulan tersenyum
Tak hentinya bersinar
Menemani tawa si bintang

Bintang berbisik pada senyapnya bumi Cintai aku, bulan

Tentangmu


Ini kisah tentangmu. 
Tentang candamu. 
Tentang tawamu. 
Tentang riangmu. 
Tentang sedihmu. 
Tentang galaumu. 
Tentang penatmu.
 
Apapun itu, ini tentangmu.

Tentang canda yang kau bagi padaku. 
Tentang tawa yang kau hiasi dalam hidupku. 
Tentang riang yang kau beri untukku. 
Tentang sedih yang kau sembunyikan dariku. 
Tentang galau yang kau tutupi dariku. 
Tentang penat yang kau tunjukkan padaku.

Ini tentangmu. 
Dan lagi-lagi tentangmu

up